PENGALAMAN JUJUR KE FAKSES DENGAN BPJS

 halo para reader semua, semoga kalian selalu dalam keadaan sehat yah.

sesuai judul diatas, kali ini aku mau sedikit berbagi pengalaman aku saat menikmati hmm, rasanya kurang tepat kalau dibilang menikmati. jadi kita ubah sedikit bahasanya menjadi memanfaatkan fasilitas kesehatan dengan pengguna BPJS atau KIS.

aku warga domisili Tangerang, yang mengajukan pindahan faskes dari kaliabang, bekasi ke faskes yang terdapat di Tangerang. proses pemindahan fakses sangat mudah, cukup download aplikasi  Mobile JKN di play store, kemudian kalian bisa ke menu profil untuk melakukan perubahan dan proses perubahan fakses cepet kok, setelah pengajuan langsung di terima. dan perubahan fakses ini bisa dilakukan minimal 3 bulan sekali.

oke, selanjutnya mengenai pengalaman aku pribadi menggunakan faskes di domisiliku-aku secara jujur tidak bisa menyebutkan dimana faskes yang aku pilih-jadi, hanya pengalamannya saja yang akan aku ceritakan. dari awal aku sangat terkesan dari pengalaman yang tidak enak, karena faskes tiap hari dibanjiri puluhan warga yang cukup membludak. memang tidak ada yang tahu bahwa sakit datang tanpa izin kepada penderitanya, namun saya baru ketahui bahwa prosedur pendaftaran ke faskes saja cukup memakan waktu. mengantri dari jam 7 (jika ingin dapat nomor di awal), kemudian jam 9 baru dapat panggilan dari dokter yang ingin kita tuju. saat itu saya ingin menuju ke dokter poli umum, karena saya merasakan sakit di lutut akibat kecelakaan motor, lutut saya sobek cukup besar sampai 2 minggu saya harus berjalan pincang. saya benar-benar tidak kefikiran bahwa seharusnya saya harus dibawa ke RS, yang saya fikirkan saya tidak sampai pingsan dan mengeluarkan darah di kepala, jadi kemungkinan pasti tidak akan di tanggung BPJS. setelah 2 bulanan kaki luka saya mulai mengering, saya merasa tidak nyaman saat bersujud- segera saya coba memberanikan diri ke fakses sesuai domisili yang saya pilih. dan seperti yang saya katakan di awal kesan ini sangat tidak mengenakan,  ketika saya harus antri berjam-jam, dan sampai pada dokter tujuan, saya benar tidak bisa dirujuk, dokterpun tidak melihat saya saat saya mencoba menjelaskan. saya bilang saya takut dan kawatir ada organ dalam saya yang terbentur terlalu kencang atau hal lain yang tidak bisa diprediksi. namun dokter bilang itu hal yang wajar memang cukup lama di area lutut. akhirnya doker memberikan saya surat semacam rujukan namun tertera keterangan bahwa rontgen tersebut tidak bisa ditanggung BPJS. saya merasa sangat kesal, marah tapi apa lagi yang saya bisa perbuat sebagai kelas 3. saya coba bertanya lewat twitter dan teman yang sepengalaman.  

saya cukup terkejut hasil reply dari teman twitter dan kawan kampus saya, bahwa mereka sangat mudah sekali mendpaat rujukan. mereka memberi saran saya untuk coba di faskes lain. segera saya pindah ke faskes domisili Jakarta, kebetulan rumah saya memang perbatasan antar Tangerang dan Jakarta. dan saat saya coba untuk pertama kalinya- benar apa yang dikatakan teman saya, dokter di faskses Jakarta sangat ramah, menatap pasien saat berbicara- saya merasa dokter tersebut turut berduka atas sakitnya saya. segera saya mendapat rujukan.


*pengalaman sedikit ini saya buat untuk para pembaca yang merasakan hal yang sama seperti saya, jika ada fakses yang sangat sulit untuk merujuk pasien yang bahkan sakitnya sudah sekarat, segera pindah ke faskses lain. pengalaman dari orang-orang di sosial media memang fakses jakarta yang cukup terbaik untuk pengguna BPJS, jadi jangan menyerah saat tidak mendapat rujukan sehingga kita harus rela berkorban mengeluarkan kocek yang besar untuk biaya rontgen di RS, kita juga bayar kok pengguna BPJS, jadi manfaatkan sebaik mungkin. sekian. semoga bermanfaat 

Comments