REVIEW BUKU "Kajian Gender dalam Konteks Pascakolonial" penulis Kartin Bandel

 REVIEW BUKU "Kajian Gender dalam Konteks Pascakolonial" penulis Kartin Bandel

saya mau sedikit cerita alasan saya membeli buku ini. berapa kali saya temukan pembahasan yang tidak ada habisnya di sosial media mengenai definisi Gender yang kemudian juga menyinggung persoalan feminis. saya mencari beberapa sumber yang mencoba untuk menjawab atas pertanyaan saya untuk melihat definisi tersebut dengan seorang ahlinya langsung yang memang punya otoritas untuk berbicara bukan berdasarkan opini semata. maka saya temukanlah buku ini dengan seorang penulis hebat perempuan yang bernama Kartin Bandel. dalam judulnya "Kajian Gender dalam Konteks Pascakolonial".


ISI BUKU


di dalam buku ini sudah disampaikan akan ada 10 poin yang menjadi topik dalam pembahasan. mulai dari Dilema Kajian Gender dalam Konteks Pascakolonial sampai di poin akhir mengenai Ambivavalensi Wacana Kolinial dan Masalah Resistensi (sebuah pembacaan pascakolonial terhadap In God We Trust, kisan perjalanan spiritual seorang Indonesia-Amerika).

buku ini memberikan pemahaman kepada pembaca mengenai dua variabel pembahasan yaitu, Gender dan Pascakolonial. dimana isi kesimpulan yang disampaikan bahwa Kajian Gender menjadi dilema dalam konteks pascakolinial. ketika kita berbicara gender maka sama saja kita juga berbicara feminis. tentu kita tahu, kritik feminis ini dibawa oleh orang-orang barat untuk menyadarkan kepada manusia bahwa sadar akan kesetaraan terhadap gender. karena gender sendiri tidak lahir secara alami, melainkan ia hasil dari kontruksi sosial. bahwa laki-laki dan perempuan terotak-kotakan oleh lingkungan sosial dalam tiap pribadinya, maka hal itu tidak dibenarkan. contohnya saja, laki-laki digambarkan lebih superiotas dibandingkan wanita. atau laki-laki tidak pantas menangis dan harus lebih kuat. nyatanya, kita semua manusia yang sama hanya berbeda jenis kelamin, dan tidak dibenarkan bahwa perempuan saja yang berhak menangis. begitulah hasil kontruksi sosial yang sudah lama dibenak kita. 

dan, yang membuat dilema kajian gender dalam pascakolonial ini, bahwa Barat merasa bahwa benar adanya negara-negara terjajah atau "dunia ketiga" perlu dibela hak-haknya untuk menjadi manusia yang lebih beradab seperti mereka. istilah kolonial ini sudah ada sejak dulu, ketika Barat datang menjajah, dan wacana kolonial ini dipopulerkan oleh Edward Said. bahwa salah satu ciri utama wacana kolonial adalah keyakinan akan superioritas orang Eropa , atau ras kulit putih, atas manusia lain. (hal,5) mereka menormalisasi atau mewajarkan tindakannya tersebut atas keyakinan bahwa orang Non-Barat primitif, bodoh, irasional, seperti anak-anak dan membutuhkan bimbingan oleh orang Eropa. hal ini terutama juga menyangkut kepada perempuan Islam, orang Barat melihat bahwa mereka harus membantu perempuan Muslim yang tidak bisa bebas di dalam agamanya, atau bahkan islam dianggap intoleran terhadap agama lain dengan bukti munculnya teroris. namun, terkadang orang Barat sendiri terasa tidak konsisten dalam statement-nya tersebut. jika dikaitkan dalam beberapa kasus, banyak dari orang Eropa-lah yang melakukan diskriminasi baik dari ras kulit bahkan agama. begitu jelas bahwa, upaya pascakolinial masih sangat terasa sampai sekarang. orang Eropa akan selalu membentuk hierarki  bahwa dirinyalah manusia yang beradab. bahkan dalam kasus kesetaraan gender yang dibawa oleh mereka, hal ini menjadi kebimbangan bagi kita.



tentang penulis. sepertinya sudah ada terpampang jelas di bagian cover akhir bawah (foto) bahwa beliau merupakan wanita dengan dua kebangsaan, karena lahir di Jerman dan sekarang menetap di Indonesia. beliau saat ini mengelola Pusat Studi Perempuan, Media, dan Seni (Anjani) di Universitas Sanata Dharma. beliau seorang muallaf, dirinya pernah disorot untuk dijadikan kisah inspiratif mengenai studinya di Pesantren Al-Munawwir, Krapyak, Yogyakarta. dengan judul film Al-Ghoriib yang disutradai oleh Vedy Santoso.


Keunggulan Buku

saya pribadi sangat senang buku ini hadir, akibat dari pertanyaan saya yang lain mengenai apa maksud pesan dari karya sastra yang menampilkan seks di luar nikah dan hal itu dibenarkan atas dasar suatu kebebasan perempuan. walaupun saya memang tau ini merupakan hasil dari pemahaman agama saya dalam melarang hal tersebut. Bu Kartin ini mmeberikan pertanyaan lain yang sangat jelas dan masuk akal untuk dipertanyakan. apa maksud pesan penulis. beliau menulis dalam bukunya "namun bagi saya, sastra sangat bermasalah ketika sebuah karya sastra mencap norma yang diyakini oleh mayoritas masyarakat pembacanya (masyarakat Indonesia) sebagai kolot, mengekang, dan bertentangan dengan kemajuan emansipasi". namun hal itu menjadi bentuk kebebasan seorang penulis karya sastra tanpa adanya batasan norma. 

dan ada banyak hal lain yang beliau tampilkan dari kumpulan esei, hasil pengalamannya juga teman lainnya yang terkait dalam topik kajian gender dalam konteks pascakolinial ini.



Judul Buku: Kajian Gender dalam Konteks Pascakolonial 

Penulis: Kartin Bandel

Penerbit: Universitas Sanata Dharma.

Jumlah Halaman: 138


Comments