AKU DAN IBU; SAMA




Indah Sari nama lengkapku, ibu memberikan nama itu atas dasar harapan anaknya menjadi anak yang cantik, anggun, dan banyak disukai oleh orang-orang seperti dirinya. Aku pernah berkata pada ibuku, sejak kecil aku sering mendengar kata, frasa dan kalimat dari orang-orang dengan bola matanya yang tajam menganalisa ke arahku. “tidak mirip ibunya”, “beda banget”, “jelek”, “mungkin mirip bapaknya”. Sampai aku dewasa di umur 16 tahun, kata itu masih melekat di telingaku saat semua teman melihat ibuku di pengambilan rapot. Arah mata mereka menuju diriku dan juga ibu. Aku dan ibu memang terlihat seperti kakak dan adik, karena ibu menikah lebih cepat di usia muda 17 tahun, dan dirinya memang tampak terlihat awet muda; jelas saja karena ibu pintar merawat dirinya; tidak denganku. Sungguh berakli-kali aku harus jengkel melihat tingkah mereka yang seakan bertanya-tanya dengan keheranan.
“ibu kamu cantik banget, ndah” ucap Caca teman sekelas yang jarang kusapa
“iyaa” jawabku singkat
“indah kok kamu sama ibu tidak mirip?” tanya Tantan heran
“ohh Indah mirip bapaknya kali” sambung Tantan dengan pertanyaan sekaligus menjawab
“memang kamu tahu Tan, bapaknya Indah? Dia saja gak pernah lihat bapaknya, kan ibunya lahirin tanpa suami” celetuk Santi tetanggaku yang jaraknya 3 langkah sebelah kanan dari rumah
“lah? Kemana bapaknya? Maunya enak doang, liat Indah lahir jadi kabur begitu?” tanya Wawan dengan wajah polos yang menjijikan
****srattttttttttttttttttttttttttt (dalam imajinasi)
Indah membayangkan dirinya memukul Wawan dengan sekuat tenaganya, namun itu hanya fikiran yang terlintas saja. Bakat itu tidak dimiliki Indah sama sekali
Tuhan, apa aku lahir begitu buruk? Sampai orang memiliki mulut hanya untuk membuat aku jatuh sakit, jika takdirnya seperti itu. Setidaknya beri aku satu permintaan, hilangkan ibuku sekarang juga.
Aku tidak tahu setiap kali melihat wajah ibu, hatiku hancur karena kesal. Ibu di umurnya yang sudah kepala tiga itu masih menjadi fikiranku di setiap jalan-jalan kehidupan. Aku lelah berkali-kali orang mengenalku dan mereka tahu Ibu pertanyaan yang muncul selalu saja itu, mungkin sedikit berbeda dari kata, tapi maknanya tetap sama. Mengapa aku berbeda?
“bu, kenapa sih harus post foto sama aku di sosial media?” tanyaku kesal saat melihat beranda sosmedku
“loh kenapa? Kan kamu anak Ibu, hari ini Ibu senang karena tadi Ibu mengambil rapot kamu. Nilai kamu bagus kok gak buruk-buruk amat. Hehe” jawab ibu masih dengan antusias membalas komentar di halaman sosmed miliknya
Semakin kesal aku dengan jawaban Ibu, aku masuk ke kamar dan mengunci. menjadi hal yang biasa bagiku ketika bad mood, aku seharian memegang sosial media dan berapa kali melihat seharian beranda sosmedku. Senang rasanya melihat orang-orang bahagia dengan wajah cantiknya. Dengan ungkapan pujian yang membanjiri pasti rasanya hidup menjadi lebih baik setiap saat.
****
Nama kamu cocok banget dengan wajah kamu. Indah nama dan Indah rupa. Kamu mirip banget dengan Ibumu. Dari alis, mata, hidung, bahkan bibir cantik dan sangat mirip dengan Ibumu. Lihat alismu, tebal dan rapi tak perlu lagi gunakan eyebrow, kemudian matamu tajam seperti mata elang yang siap memangsa untuk makanannya, dan hidungmu mancung kecil sangat pas di wajahmu, bahkan bibirmu tipis merona tak usah lagi gunakan lipstick. Keteduhan pohon itu menjadi bayang buah bagi sang anak satu-satunya.

****
Jreng, jreng, jreng
Notifikasi seperti alarm mengusikku dari indahnya mimpi itu, aku cek apa yang menyebabkan banyak pesan sudah ratusan di grup kelasku. Ohh tidak grup kelas ku di SMA saja, ternyata teman SMP ku turut sedang ramai. Aku mulai membaca satu-satu pesan dari awal masuk sampai akhir, mataku yang sepet karena masih menahan kantukan, spontan hampir keluar saat foto Ibuku ada dalam grup kelasanku, mereka semua membicarakan IBUKU DI DALAM GRUP KELASKU, BUKAN AKU. Aku mendadak lemas, tak berdaya menggerakan jempol untuk melihat obrolan selanjutnya. Ternyata mereka masih saja mengagungkan kecantikan Ibuku, namun yang menggangguku mereka turut menyebutku sebagai bahan kedua; pembanding. Kami berbeda, tak sama. 360 derajat katanya, buka kata atau kalimat lagi, bahkan angka juga sudah masuk ke dalam rusukku. Aku benci itu, terlalu benci.
Aku keluar dari kamar, mengambil pisau dapur yang paling tajam. Tanganku berada di belakang, aku sudah memasang wajah marah dan Ibu masih tidak memahami perasaanku saat ini. Ibu masih saja melihat gawai nya dengan segara aku mengukir alisku dengan rata, aku ukir mataku lebih tajam seperti elang sampai darah itu cukup mengalir dan tak sampai di hidung Ibu bergegas menarik pisau itu dariku,
“apa yang kamu lakukan?”
“mengapa Ibu tak jadi orang biasa saja? Kenapa harus menjadi cantik dan Indah layaknya namaku? Mengapa Ibu tak biarkan aku memakai nama Ibu untukku.
“kunyuk maksudmu?”
“apapun itu namanya”
“mengapa kamu harus kuberikan nama itu, maka tak sedikit ditemukan keindahan ada padamu”
Aku terkejut dengan mata melalak, apa maksud ibu berbicara seperti itu.
“cobalah untuk menjadi seperti Ibu, cantik merawat diri. Agar Ibu juga tidak malu” hatinya tak mengasihani darah mengalir di mukaku
“bagaimana caranya?” tanyaku menggeram
“vermak wajahmu itu” jawabnya ketus yang tak kulihat sebelumnya
“baik”
Aku menusuk tubuhnya dengan 7 kali sayatan, berharap Tuhan mengabulkan doaku kali ini. Lalu apa lagi yang perlu kulakukan? Kata ‘vermak’ itu masih menjadi ambisiku; segera aku cabut bentuk alisnya, matanya tidak sampai di hidung. Suara wanita berteriak dari depan jendela melihat aksiku.
Aku ditahan oleh bagian keamanan warga. Banyak dari pihak berwajib datang dan memborgolku, entah hatiku saat itu sangat takut. Tapi aku masih punya rasa senang, berkat mimpi itu aku setidaknya masih bisa menghiburku selama masa suram dalam hidupku.
Ide: Novia Khairina

Comments