Gadis Jakarta (عذراء جاكرتا)

Salam teman-teman semua, كيف أصبحتك؟ (bagaimana kabarnya?), عسى الله أن دائما يعطيك صحة (semoga Allah selalu memberikan kesehatan). Aamiin

Hari ini, aku mau sedikit berbagi hasil bacaan aku mengenai novel yang berjudul Gadis Jakarta karangan Najib al-kailani. Beliau salah satu tokoh sastra Arab yang cukup terkenal di Mesir dengan genrenya yanh ciri khas yaitu romantis. Bagi kalian penggemar karya romantis dan bahasanya yang tidak terlalu berat, kalian akan cocok dengan karya sastra beliau ini. 
Baik langsung ke isi ceritanya saja yah, jadi Gadis Jakarta ini menceritakan seorang gadis yang berani dalam menyampaikan idiologinya dan mengajak masyarakat agar tidak salah dalam sistem yang zholim. Secara tersirat penulis sendiri menggambarkan kisah pada tahun 1965 mengenai kejadian yang ada di Indonesia. Yaitu beberapa teman semua sudah tahu jika membaca sejarah bahwa ada gerakan revolusioner yang mengaku bahwa ideologi mereka yang paling benar dalam memenuhi sistem masyarakat. Namun di dalam novel tidak disebutkan secara pasti nama partai apa yg membawa gerakan revolusi tersebut. Tapi ada satu partai islam yang disebut dalam novel, yaitu Masyumi. Dibalik tokohnya, penulis menamakan tokoh mereka dengan nama Abul Hasan selaku kekasih Fatimah (Gadis Jakarta). Hal ini yang menjadi menarik bagi saya bahwa kita ketahui kehidupan Ali bin abu thalib atau sebutannya Abul Hasan dengan Fatimah adalah pasangan kekasih yang selalu diidamkan oleh umat muslim setelah Rasul dan Khadijah. Persoalan hubungan mereka cukup terjaga dalam syariat Islam, sewajarnya dan tidak berlebihan. Dimana dalam cerita tersebut Abul Hasan membantu Fatimah dalam menyampaikan pesannya agar masyarakat tidak terjatuh dengan idiologi yang dibawa Az zaim (salah satu tokoh yang berperan dalam gerakan partai revolusioner), begitu juga Abul Hasan yang dipenjara akibat membantu mencari ayah Fatimah yg ditahan karena anggota penting dari Masyumi, terus dikuatkan oleh seorang Gadis Berani yang bernama Fatimah. 


Sedikit cerita mengenai Gadis Jakarta ini, beralih ke model cerita dalam novel ini membuat saya tertarik lagi, karena tak lupa penulis selalu memperpadukan tulisannya dengan sederet kata-kata yang berasal dari Al-Qur'an, seperti pada contoh kalimat percakapan ini
"Kita akan pergi ke mana, Putriku?"
"Tanah Allah luas, Bu", jawab Fatimah

Memang percakapan ini terkesan sederhana, bahkan semua orang meyakini bahwa tanah Allah tentu luas. Namun di keadaan yang sangat berantakan, bahkan kezholiman sedang memunculkan jati dirinya, maka sesuai dengan keinginan Fatimah yang menyarankan ibunya untuk pergi dari tanah air

Saya jadi mengingat ada salah satu ayat Alqur'an 4:97, yang mengatakan bahwa:

إِنَّ الَّذِينَ تَوَفَّاهُمُ الْمَلَائِكَةُ ظَالِمِي أَنْفُسِهِمْ قَالُوا فِيمَ كُنْتُمْ ۖ قَالُوا كُنَّا مُسْتَضْعَفِينَ فِي الْأَرْضِ ۚ قَالُوا أَلَمْ تَكُنْ أَرْضُ اللَّهِ وَاسِعَةً فَتُهَاجِرُوا فِيهَا ۚ فَأُولَٰئِكَ مَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ ۖ وَسَاءَتْ مَصِيرًا


Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan malaikat dalam keadaan menganiaya diri sendiri, (kepada mereka) malaikat bertanya: "Dalam keadaan bagaimana kamu ini?". Mereka menjawab: "Adalah kami orang-orang yang tertindas di negeri (Mekah)". Para malaikat berkata: "Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah di bumi itu?". Orang-orang itu tempatnya neraka Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali,
Berikut adalah yang saya garis bawahi mengenai bahwa Bumi Allah tentu amat luas. Dalam konteks tersebut memang bentuk bahwa akibat dari seorang yang rugi akibat tertindas. Saya tidak mengetahui banyak tafsir. Namun yang saya sukai adalah kalimat bahwa Bumi Allah itu luas menjadi daya tarik bagi saya ketika menemukam di dalam novel sastrawan Najib Kailani. MasyaAllah.
Beranjak kelebihan dan kekurangan, bagi saya secara pribadi novel ini sangat sesuai dengan genre saya yang menggemari karya Habiburrahman El Shirazy, saya akui karya kang Abik sapaan akrabnya mirip dengan Najib Kailani, mungkin karena terpengaruh dari kang Abik yang pernah menimba ilmu disana yaitu Mesir, hasil perkuliahan yang saya dapatkan juga bahwa kang Abik dapat dibuktikan secara ilmiah karyanya mendekati model Najib Kailani. Dari kedua tokoh ini tentunya saya sangat menyukai genre cerita yang romantis dan tak lupa juga ada pengetahuan didalamnya yang menjadi informasi bagi pembacanya mengenai sejarah tentunya. Dan sedikit kekuranganya, mungkin karena saya juga menemukan karya sastra lain yang lihai memainkan bahasanya dan berbelit-belit namun indah, tak saya temukan dalam bahasa di novel Gadis Jakarta. Teruntuk baru kali ini saya juga membaca karangan Najib, namun bagi saya novel pertama yang saya baca ini tidak membuat saya berlarut dalam bacaan tersebut karena memang secara memainkan bahasa di novel ini kurang saya dapati dalam keindahan karya sastra. Tapi balik lagi ke kelebihannya, dibalik romantis tersebut seorang Najib sangat hebat tak lupa menampilkan pesan-pesan berdasarkan beberapa syariat Islam. Saya suka ituuuuu.
Dan teman2 perlu diketahui juga, di bagian buku terjemahan penerbit juga merasa bingung karena ada salah satu tokoh sastrawan Arab yang bisa menjabarkan kehidupan di Indonesia yang saat itu beliau sendiri tidak diketahui keberadaannya ada di Indonesia, hal ini menjadi sangat hati2 juga mengapa beliau tidak mencantumkan gerakan revolusioner tersebut. Ini menjadi nilai yang plus plus untuk seorang sastrawan yang totalitas, sebagaimana bahwa karya sastra hadir sebagai cerminan masyarakat di masa kehidupan itu.
Sekian dulu tulisan saya,  ini hanya opini orang mubtada' dalam review bacaan buku novel yang berjudul Gadis Jakarta karya Najib Kailani. Terimakasih bagi kalian yang sudah membaca. Spasiba Balshoi (ucapan terimakasih yang ada di novel Bumi cinta karya kang Abik, lebih tepatnya bahasa Rusia: ungkapan terimakasih).
Mohon maaf terlalu berbelit-belit
Cheerio

Comments

Post a Comment