Gincu Merah


“neng, abang pulang” ketukan pintu rumah membuat Maria telah mempercantik diri 10 menit sebelum Farhan pulang
Tersenyum merona dan makin cantik dengan riasan wajah yang lebih menor dan yang paling mencolok, gincu merah cabe melekat di bibirnya.
Bayangan lama yang memalukan muncul di kepala Farhan akan masa lalunya, lantas segera membalikan badan dan pergi meninggalkan istrinya dengan rasa bingung dan kecewa.
~~~~
“Han, bulan ini kita belum kabur kan?” tanya Aris serius yang datang dari lab komputer
“mau kabur lagi ente?” tanyanya dengan tenang
“Han, ini penting banget. Temenin ane sebentar yuk. Sabtu besok” aja Ari lebih serius dan terlihat penuh ambisi
“coba jelasin dulu, mau kemana dan ada urusan apa?” tanya Farhan dengan menaiki ekor matanya didalam kaca mata bulatnya
“temen lama ane, hari ini dia balik dari pondoknya. Katanya sakit dan sekarang ada di rumah sakit”
“apa gak sebaiknya kita izin aja Ris?”
“ah ribet Han, ditanya ini itu dulu. Belum lagi disuruh izin ke ustadz lagi, belum tentu diizinin” jawabnya kesal
“okedeh besok ane temenin”
“hehe siap deh, nanti ane traktir semuanya”
“itusih pasti” ledek Farhan kepada Aris
Keeseokan harinya Farhan dan Aris pergi keluar tanpa sepengetahuan bahkan perizinan dari mudabbir ataupun ustadznya. Karena sabtu tidak terlalu banyak absensi kehadiran, jadi usai sholat subuh mereka bergegas pergi keluar ke daerah Rumah Sakit Sari Asih di Tangerang. Tibanya disana Farhan datang dan menjenguk sahabatnya ketika duduk di bangku sekolah dasar, ia mengalami mag yang cukup parah hingga harus dirawat di rumah  sakit. Tak lupa Aris juga mengenalkan Farhan kepada kawannya. Karena menahan pipis sejak awal di stasiun kota pertama, Farhan izin di perbincangan orang tua kawan Aris untuk ke kamar mandi. Ia terbirit-birit tak kuat mehanan pipisnya, awalnya sampai di rumah sakit Farhan ingin ke kamar mandi namun Aris nampak terburu-buru mencari meja resepsionis dan menanyakan kamar kawannya. Ia lari tanpa berfikir Panjang dan brakkkkkkkkkkkk….seorang perempuan terlihat sepantaran dengannya menabrak dada kanan atas Farhan. Ia berdua kaget dan nampak keduanya segera meminta maaf. Wanita itu berkali-kali meminta maaf kepada Farhan, dan Farhan pun meminta maaf kepadanya. Saat wanita itu memperhatikan bahu Farhan, ia sontak ingin memanggil Farhan namun Farhan sekejap duluan berlari kearah toilet karena tak kuat menahan lagi pipisnya. Wanita itu berharap semoga Farhan menyadari ada bekas gincu merah di dada kanan atasnya. Ketika Farhan keluar dari toilet dan sempat berkaca sejenak, ia kaget melihat ada bekas bibir dengan warna merah di baku atasnya. Karena ini pertama kali baginya mendapat pengalaman seperti ini, terutama ia tak biasa ada kejadian aneh menimpa pada dirinya, ia bingung dan tak tahu harus berbuat apa. Yang anya terlintas difikirannya ia sangat malu dan ingin kembali ke kamar di asramanya.
Ketika ia menaiki kendaraan umum, sontak orang yang melihatnya kaget ada noda gincu merah di baju kokoh putihnya. Farhan tahu itu, ia hanya bisa memegang tangan kirinya untuk menutupi noda tersebut.ia benar-benar tak tahu harus berbuat apa. Tibanya di asrama, ia sampai pada siang hari, dimana santri banyak yang beristirahat setelah menjalankan rutinitasnya. Farhan langsung melepas baju kokohnya, dan merendam pakaiannya didalam ember kecil miliknya. sekali lagi ia perhatikan nodanya, ia tidak bisa membayangkan mengapa noda itu tampak jelas seperti wanita yang niat sedang mencium dada kanan atasnya. Ia agak merinding dan segera merendamnya.
Iwan salah satu santri sekamar dengan Farhan kaget melihat ada noda kecupan berbentuk bibir di kokoh putih Farhan, karena kebetulan iwan sedang merendam baju kokoh putih yang ternyata tertukar dengan kokoh Farhan. Dan disampingnya Iwan, ada Owi yang ikut menyaksikan keanehan noda tersebut. Dibelakangnya ada mudabbir Hanan yang ikut melihat noda baju milik Farhan. Mereka semua kaget dan segera menemui Farhan meminta penjelasan. Farhan bingung saat di introgasi mereka bertiga, termasuk ada sala satu mudabbirnya yang mampu memberikan hukuman kepadanya. Hingga teman satu kamarnya tahu bahwa ada noda bekas kecupan bibir seseorang. Dari satu kamar hingga ke kamar lain dan satu kawan angkatannya termasuk Aris. Padahal Farhan telah jujur kepada mudabbirnya bahwa itu hanya kecelakaan kecil tak sengaja, ia berkata sejujurnya bahwa ia keluar tanpa izin. Namun sudah pasti ada salah satu kawan sekamarnya yang tak bisa menjaga mulutnya, hingga menyebar berbagai isu lain yang menyatakan bahwa Farhan keluar tanpa izin untuk menemui kekasihnya. Bahkan yang lebih parah, ada yang menyebar isu bahwa Farhan telah melakukan hubungan yang lebih dengan kekasihnya. Hal itu membuat Farhan marah dan sempat membuat keributan dengan kawannya hingga isu tersebut diketahui bahkan sampai ke ustadznya. Sungguh malang nasibnya. Usai kejadian memalukan itu, Farhan tidak mau lagi keluar tanpa izin dan sepengetahuan mudabbirnya. Terutama ajakan Aris, yang tidak bisa bertindak banyak atas kejadian itu.
~~~~~~~
Maria mencoba berkali-kali menghubungi suaminya, namun Farhan masih terdiam termenung di warung kopi langganannya. Selain menghubgin Farhan, Maria juga mengirimkan pesan whatsapp kepada suami tercintanya “abang kenapa tiba-tiba pergi seperti melihat hantu dengan tatapan kosong? Apa maria begitu jelek sampai abang memasang wajah seperti itu dan pergi. Jika iya, tak usah pulang saja sekalian dan untuk selamanya” ketiknya dalam sapaan pesan setelah kejadi itu
Farhan membuka pesan dari istri tercintanya, ia segera lari dan pulang ke rumah menemui istrinya yang menangis tersedu di kamar. “eneng nangis?” pertanyaan yang tak perlu dijawab
“abang kira eneng ketawa?” Farhan bingung
“eneng cantik, Cuma lebih cantik kalo gak pake gincu merah”
“cakepan pake gincu merah apa hitam?” pertanyaan yang aneh difikir bagi siapapun
“gak dua-duanya” jawab Farhan datar

Comments