Cantik Itu Pembawa Luka?


“lalu, mengapa kau mengenakan riasan untuk bertemu denganku?” tanyanya penuh amarah dan kepalan kuat dalam genggaman tangannya
“jangan salah paham, aku berhak merubah penampilanku. Bukan untuk kamu” jawabku menenangkan
Lelaki itu pergi penuh amarah dan aku terdiam menangis tersedu, dia kembali dan datang
*****
Dunia luar membuat Intan banyak ingin melakukan suatu hal yang baru, meminta uang kuliah terus membuat malu saja; malu terhadap orang tua, saudara, bahkan diri sendiri. Tak bisa tertahankan, Intan juga butuh membeli laptop dan hp canggih seperti kawan-kawannya agak tidak lagi dibilang ketinggalan jaman. Hidup di tanah perantauan membuat dia harus mengeluarkan ekstra tenaga menahan rindu kepada emak bapaknya di kampung halaman. Intan memang anak kesayangan, gadis desa yang tidak pintar namun rajin dan bercita-cita menjadi Arsitek di masa depan.
Dia disenangi banyak kawan, karena sifat lugu-nya dan tentunya cantik menawan, tapi dia tidak pernah merasa bahwa dirinya cantik. Banyak temannya yang sering memujinya hingga Intan lupa sudah berapa kali kawannya itu mengulang ungkapan kagumnya kepada Intan. Ahhh, coba saja kalian liat intan aslinya, benar-benar indah dipandang, mukanya yang terkesan seperti wanita suku sunda yang manis, murah senyum, bibir pink menawan, dan kulit yang putih lahir dari bawaan. Ditambah sifat manisnya yang tersenyum seperti kucing yang minta dielus oleh majikan.
“intan, kamu bilang kamu butuh kerjaan bukan? Aku nemu salah satu brand kosmetik butuh spg buat event selama 7 hari, lumayan gajinya.” Kata Ana (selaku teman Intan di satu kosan)
“wah, tentu aku mau, tapi hanya untuk satu orang,. Kamu gak mau?” tanya Intan dan melesu mukanya seperti lipatan kertas halus
“aku gak mungkin ikut, persyaratannya gak cocok di aku, jaman sekarang orang juga mau mempekerjakan sama orang yang good-looking, seperti kamu. Tinggal penampilan kamu aja yang diubah, biar gak keliatan polos banget” ujar Ani memandang wajah Intan dari ujung kepala sampai kaki
“kalo gitu aku juga gak mau deh” jawabnya dengan sangat menggemaskan, seperti anak kecil yang rela kehilangan mainannya direbut kawan
“Intan, aku gak mungkin ikut, kamu liat persyaratannya?” tiba-tiba Ani menggeser laptonya ke arah Intan. 1. Berwajah bersih, 2. Good-looking, 3.tidak berjerawat, 4.berkulit putih, 5.ramah. intan memandang Ani lama, dan merasa bersalah, ia sudah faham jawabannya. Ia meminta maaf dan mengucapkan banyak terimakasih kepada kawannya. Benar-benar mengecewakan.
Sangat tidak diprediksi anak lugu sepertinya diterima sebagai spg event kosmetik, tidak disangka. Intan sangat kaget ketika awal masuk kerja. Dia sama sekali tidak paham mengapa penampilan yang lain sangat cantik dan menarik perhatian. Intan sempat minder dan tak percaya diri. Sampai ia bertemu dengan salah satu manager pegawai spg, ia mulai belajar beberapa hal baru. Yah kalian semua sudah tahu, semua penampilan Intan berubah, dirombak, seperti putri yang dikurung dalam waktu lama, dan keluar memantulkan cahaya. Intan mulai belajar bagaimana cara berdandan, mengoles lipstick ke bibir pink-nya, mengoles bedak ke muka mulusnya, menambah  kelentikan bulu mata dengan maskara. “sudah ku duga kamu memang cantik” ungkap mba Rinta selaku manager spg. Ini bukan kebiasaan Intan, tidak biasanya ia pakai riasan seperti ini saat ke kampus.
Selama 7 hari intan bekerja sebagai spg kosmetik, ia juga tak melupakan kewajiban tugasnya di kampus, baik individu ataupun kelompok, intan dengar kabar dari teman kos nya, Ani. Bahwa ia mendapat tugas kelompok dengan Wawan. Tak begitu akrab, hanya sekedar tahu bahwa Wawan teman satu kelas dengannya. Hari itu tiba saatnya Wawan mengajak Intan untuk mengerjakan tugas bersama, Intan menyanggupi, namun ia harus katakan, ia bisa menemui Wawan usai kerja part-time. Tak masalah bagi Wawan, asalkan Intan mau diajak kerja sama itu sudah cukup baginya. Seperti yang Wawan ketahui Intan adalah anak yang sedikit polos, baik sifatnya dan penampilannya. Namun tak disangka, diluar itu, wawan sedang menunggu Intan untuk mengerjakan tugas, Intan datang dengan penampilan yang tak biasanya, ia masih mengenakan riasan dan baju kerjanya yang sedikit metat, ia berlari terbirit-birit dengan napas tersengal sengal. Dan mengucapkan kata maaf. Tak apa Intan, siapa yang bisa menolak permintaan maaf dari seorang putri. Begitulah yang ada difikiran wawan. Wawan sangat terkejut dan tak bisa berhenti memandang kecantikan intan, apa benar ini yang dinamakan “the power of make up”? ah sepertinya intan memang cantik walau tanpa riasan, aku saja yang tidak menyadarinya. Saat itu aku putuskan Intan mampu menarik hatiku.
Seperti lelaki pada umumnya yang merasa jatuh cinta, wawan mencoba mendekati intan dengan berbagai cara, tapi sayangnya ia masih seperti pengecut, hanya berani lewat dunia maya untuk menghubungi intan, ia sering men-chatting, menanyai kabar, dan sedikit ada bumbu kemodusan dalam berharap untuk menjalin cinta. Intan hanya mengira itu candaan, jadi ia balas dengan beberapa emot senyuman, tak tak memakan kata-kata.
Yanto salah satu teman Intan yang dekat dengannya dari awal perkuliahan memang merasa jatuh juga pada intan, sudah lama ia memendam rasa, namun yanto belum mau menyatakan cinta pada intan, ia sempat menjauh dari intan karena memang tidak sekelas di beberapa semester, dan Yanto juga sibuk mengikuti organisasi luar. Di semester 5 ini Yanto memutuskan mengambil mata kuliah sekelas dengan Intan, dan melanjutkan kedekatannya yang sempat lama renggang.
Begitu dengan wawan yang berharap dengan Intan untuk menjadi kekasihnya, saat pergi ke kantin wawan tak sengaja melihat Intan sedang duduk berdua bersama Yanto, teman sekelasnya juga, jelas mereka bertiga sekelas; intan, yanto, dan wawan. Hatinya terasa panas terbakar api cemburu. Tapi kalu difikir-fikir bukankah intan bukan kekasihnya? Belum jadi pacarnya? Ah tidak tahu. Lagi pula, siapa yang membuat hati ini jatuh cinta kepadanya? Dia. Wajahnya yang cantik indah dipandang mata, ditambah ia kenakan riasan elok di wajahnya, dan sepertinya ia sengaja melakukan itu, untuk menarik perhatianku, bukan?. Pikiran itu terbayang-bayang di kepala wawan disertai api kemarahan. Ia pergi meninggalkan kantin tersebut, karena rasanya hatinya akan pecah meledak karena panas dan sudah membakar ke seluruh isi yang ada di organnya.
Wawan merenung, berfikir dalam keheningan malam, apakah selama ini dirinya lah yang terlalu pede? Atau Intan yang sengaja memberi harapan palsu?. Dari mana kau bisa simpulkan itu semua Wawan?. Iyaa, seharusnya jika dia tidak ingin aku terpikat olehnya, mengapa ia masih mengenakan riasan wajah? Untuk menampilkan dan memamerkan wajah cantiknya?. Tiba-tiba saja terbesit di kepala wawan niat jahat akibat terlalu cintanya terhadap Intan.
Hari itu, Intan tidak terlalu menanggapi chatan wawan. Wawan mulai mencurigai bahwa Intan memang menemukan lelaki yang baru; Yanto. Fikiran negatif Wawan mulai menghantui dirinya; bahwa Intan akan pergi darinya dan menemui pria lain. Wawan sudah tahu dimana letak kosan Intan, ia ingin menemui Intan, melalui chatan, Wawan mengatakan kepada Intan bahwa ada sesuatu yang ingin dia berikan. Yah, wawan sudah menyiapkan semua itu. awalnya Intan menolak, tapi Wawan bilang ini hal yang amat genting. “Sepertinya ini akhir dari wajah kecantikan Intan” fikir Wawan.
“wawan?” sapa Intan heran melihat pakaian wawan yang sangat tertutup, mengenakan sweater dan topi hitam.
“apa kamu mencintaiku?” tanya wawan dengan tatapan ambisius
“wan? Kenapa kamu---”
“apa? Aku bawa sesuatu untukmu, sesuai janji. Mau kuberi sekarang?” wawan masih menampakan wajah seperti ular yang siap memangsa musuhnya
Wajah yang tak pernah diliat Intan, wajah wawan begitu menyeramkan. Membuatnya seperti akan menghadapi sakaratul maut, Intan mencoba berteriak dan byarrrrrrrrrrrrrrrrrrrr..
Intan berteriak sekeras-kerasnya. Air minuman keras yang ada di genggaman wawan sejak tadi, ia lemparkan kepada Intan. Wawan langsung memeluk intan mencoba seperti pria yang melindungi kekasihnya sedalam-dalamnya. Tapi sama sekali bukan pria yang baik. Intan mencoba melepaskan pelukan wawan, namun wawan lebih kuat dari yang dikira. Ia memeluk intan dalam tangisan yang di banjiri air minuman keras. Muka intan seketika langsung memerah dan siap menimbulkan bekas luka.
“aku mencintaimu, Intan. Aku melakukan ini karena aku mencintaimu” jawabnya dengan tatapan kekasih yang takut kehilangan belahan jiwanya
“apa kamu bodoh, wawan? Kamu telah melukaiku, ini yang kamu namakan cinta?” kemarahan intan membuat tenaganya menjadi kuat dan berhasil melepaskan pelukan wawan
“apa kamu tidak mencintaiku?”
“siapa orang yang mau mencintai orang yang gila?”
“mengapa kamu mencoba menggoda orang gila?”
“ha?”
“riasan yang kamu kenakan, untuk apa kamu berias saat kita bertemu?”
“aku tidak berias untukmu, aku pulang kerja wawan”
“kenapa itu masih melekat? Kenapa saat berdua dengan orang gila tidak mencoba menjadi gila juga?”
Hari itu, terakhir kalinya bagi Intan tidak berparas cantik dan juga bukan anak lugu dari  kampung halaman, salah satu penjahat yang ia tidak laporkan adalah Wawan, wawan pandai bernegoisasi dengan Intan, ia janji akan menikahi dan menemai Intan sampai tua dengan wajah baru Intan. Intan berfikir kembali, siapa yang mau menikahi perempuan yang tertinggal luka di wajahnya kecuali wawan? Dan ia putuskan ia menerima lamaran wawan untuk menjadi istrinya.

Comments

Post a Comment