Cintaku di Malam Pertama


“(tersenyum manis) aku tidak pernah diperlakukan seperti putri sebelumnya” jawabku manis mengingat masa lalu
***
4 bulan rumah tangga kami berjalan lancar tanpa hambatan fisik, tanpa kekurangan ekonomi dan tanpa perselingkuhan. Menikah adalah salah satu impian bagi semua orang, membangun rumah tangga dengan orang yang dicintai dan mencintai dan hidup bahagia dalam satu atap sampai akhir hayat. Sebelum kami menikah juga tidak banyakbasa-basi dalam ta’arufan. Orang tua mas Ramlan sudah datang kerumahku, melihat keluarganya yang bernasab baik dan punya karir yang bagus, lulus kuselesaikan studiku mereka semua datang dan meminta untuk menjadi besanan. Dan kami menikah.
Tak ada yang berbeda dari pernikahan pada umumnya, begitu ramai orang dari pihak keluarga sana-sini datang berbondong-bondong mengucapkan ‘selamat’ dibalut senyuman tulus dan fana’. Aku sedikit pusing, tak enak badan, tetap aku tahan. Mas Ramlan hanya mengerutkan kening, seperti bertanya-tanya. Dan aku membuang muka tak menatap matanya. “kamu sakit, dek?” tanyanya asing bagiku, “pusing doang, mas. Udah biasa kok” jawabku singkat. Tak banyak gubrisan selanjutnya dengan kode-kode aku tak tahan melihat keramaian. Ia takpinta rmembaca ekspresi, jelas dia bukan psikolog ekspresit ernama. Malam pertama, kami memutuskan untuk pergi berbulan madu di luar kota. Usai acara resepsi, sorenya aku dan mas Ramlan pergi, hatiku sangat senang, tak banyak orang asing, walau disampingku ini masih terasa asing bagiku, setidaknya hanya satu orang. Dan malam itu, aku tidur terlelap, sekitar pukul 10 malaman, dia membangunkanku, yah suamiku. Pertama kali ia membangunkanku di kamar dan berani memasuki kamarku, jelas kami sudah bersuami-istri. Tapi, aku masih kaget, terasa asing, sampai dia membuka pintu dan mengelus pipiku membuat aku terbangun sontak dan langsung duduk membereskan rambutku. Menatap matanya danbertanya “ada apa, mas?”. “kamu masih pusing?”. “ tidak sudah baikan kok” jawabku heran melihat tatapan asingnya. “mas tau kamu masih asing ngeliat mas, dek Gefa. Tapi mulailah melihat mas ini sebagai suamimu sekarang, dan orang yang mencintamudan yang kau cintai” jawabnya lembut dan aku luluh dibuatnya. Tatapan manisnya lama memandangku, ia mulai mencium dahiku cukup lama, mengelus rambut dan menciumi.................... dan Kami mulai bercinta.
2 minggu berjalan, aku senang rasanya hidup berumah tangga. Melihat orang yang kucinta saat datangnya malam pertama. Sering melakukan kegiatan rumah tangga dengan ikhlas dan tulus. Aku mencoba menjadi ibu rumahtangga yang baik untuknya, demi dirinya. Seorang pengabdian istri yang ingin menjadi yang terbaik bagi suaminya. Setiap hari  membersihkan  rumah, menyuci pakaiannya, menyetrika, memasangkan dasi dikemejanya ketika akan berangkat ke kantornya, memasak untuknya, dan terus mencintainya. Tak ada yang aneh awalnya. Namun semakin lama, kehidupan kami tak ada yang istimewa, aku? harus melakukan semua ini sendiri. Iyaa, ini memang pilihanku. Usai mas Ramlan pulang kami hanya melewatkan itu semua, tanpa pembahasan, tapi pujian, tanpa kasih sayang yang akuinginkan. Lebih, aku butuh lebih. Aku lebih penat dari semua urusan kerjaan mas Ramlan. Aku mencoba merubah penampilan, kali ini aku ingin dipandang cinta oleh suamiku sendiri. Seperti sebuah kejutan istri untuk suami. Aku pergi ke salon kecantikan, merubah gaya rambut dan merawat kulit. Detika kan kepulangan suamiku pulang, aku berdandan, menggunakan riasan tebal di muka. Seperti pengantin baru 2 minggu kemarin, bedak, eye-shadow, maskara, blush-on, gincu merah. Teraplikasikan semua di mukaku. Dan, tidak mengenakan baju daster yang nyaman, kugunakan dress ketat yang hanya sampaipaha, tampak jelas tubuh kurusku. Tak  apa mencoba jalan tegap  dan berlenggak-lenggok bisa terlihat bahwa tubuhku tak jauh kalah dari model terkenal. Ia sampai di rumah, aku bersiap duduk di Kasur melipat kakiku dan berpose seperti model yang akan difoto. Ketika ia membuka pintu kamar, ia sedikit kaget dan tersenyum manis, seperti senyuman yang kukenal saat malam pertama. Masuk dan melakukan hal yang sama seperti malam pertama. Aku marah, berdiri meninggalkannya. Kali ini iabegitu liar, tak banyak yang ia katakan, hanya perbuatannya sajalah yang membuataku muak. Kali ini aku diperkosa. Ia menarik tubuhku kasar dan melakukan liar, lebih liar dari harimau yang siap melahap mangsanya.
****
“beruntungnya suamimu memilikimu” jawab pria itu kagum
“dia tidak pernah memujiku sedikitpun, berkata aku cantik yang diinginakan semua wanita. Tidak ia lakukan kepadaku yang sudah menjadi istrinya. Apa berat Roy?” tanyaku Teheran dan tegar
“apanya?”
“soal memuji wanita, terutama istri”
“jika kamu butuh pujian, datanglah padaku dan beriaslah layaknya ingin bertemu suamimu tercinta” jawab Roy, rekan kerja yang lebih muda dariku
“kenapa? Hanya pujian?”
“jika aku mencinta, apa kau juga mau membalas?”
Aku terdiam sejenak memikirkan fikiran-fikiran jahat, mari  kita lakukan diam-diam.

cipadu, tangerang

Comments

Post a Comment