Makanan Terakhir Buatan Emak




Ia berbaring lemah tak berdaya, dengan muka pucat seperti ditaburi bedak. Matanya layu seperti bunga tak disiram beberapa minggu. Dan berkata, makanlah untuk terakhir kalinya, aku membuatnya untukmu, selama seminggu ini, tolong jangan kau masuki perutmu itu dengan makanan hasil uang haram. Aku membelinya sendiri, dengan uangku, hasil berjualan gado-gado yang kujual pada siang hari, tepat saat kau pergi melangkahkan kaki mu ke tempat laknat itu. dan untuk terakhir kalinya ia berkata seperti itu, nyawanya terbang melayang spontan aku teriak dan membuat heboh warga sekitar.
****
“masih belum dapat pekerjaan” tanya emak padaku.
“belum, mak. Jaman sekarang susah cari pekerjaan. Lulusan SD kaya eneng paling mentok kerja kaya kemaren pegawai toko swalayan”
“neng, emak bantu jualan aja yak. Kita harus lunasin utang almarhum bapakmu” jawab emak pasrah
“emak udah tua mak, eneng bakal cari duit. Dengan cara apapun itu” jawabku sontak sedikit marah
Beberapa surat lamaran yang terkirim, tak ada satupun jawaban panggilan terima. Tak mungkin aku tetap menjadi pegawai toko swalayan. Tak akan kekejar gajiku untuk membayar semua utang yang bapak tinggalkan. Lagi pula, mengapa juga harus aku yang membayar semua hutang bapak. bapak saja tidak bisa menyekolahkanku hingga tuntas. Asik berfoya-foya, pulang malam dan sering didapati pada bajunya kecupan seorang perempuan. Dan mengapa emak diam berdiri mengangguk semua yang bapak perintahkan. Layaknya pembantu yang harus menyediakan segala keperluannya. Bapak saja tak mencari nafkah untuk kita, tidak bertanggung jawab pada pendidikanku. Sebegitukah cintanya? Sampai rela tersakiti lahir dan batinnya. Jika aku jadinya akan kuceraikan tanpa meminta harta gono gini. Siapa juga, mana ada orang sudi menerima sisa-sisa harta barang pegadaian.
Sudah hampir dua minggu tak kuterima jawaban dari lamaran yang kukirim kemana saja. Aku melihat diriku depan cermin. Apa salahku? Apa dosaku? Hidup dalam lilitan uang yang gaji biasaku saja dalam 3 bulan tak mencukupi untuk melunasi hutang bapak. mengapa aku harus mempunyai ayah tak bertanggung jawab sepertinya. ia teringat kejadian lalu yang pernah memergoki bapaknya sedang bercinta di kamarnya dengan seorang wanita muda bertubuh molek, meggairahkan, dengan sedikit lepasan kancing di kemejanya. Dan bapak masih memegang pinggulnya saat melihat aku terpaku diam tak bergerak dengan wajah pucat, karena menahan sakit perut. Aku pulang ke rumah lebih cepat dari biasanya, karena sakit perut makanan yang dibeli bapak tadi pagi. Emak tak ada di rumah, harus menemani bibi yang sedang sakit. Aku lari keluar rumah, menahan tangis. Tak akan sudi aku mengeluarkan air mata untuk lelaki jahanam. Saat itu kehidupan ku dan bapak menjadi sangat canggung, aku melihat berkali-kali ibu tersakiti oleh kerasnya bapak. bermain fisik dan juga batin. Momen kejadian yang kulihat tak pernah kuceritakan pada ibu. Dan begitulah sampai kami tak bisa makan lagi, aku memutuskan kelas untuk berenti dari sekolah ketika kelas 2 SMP. Aku mencoba melamar pekerjaan. tak dapat dipungkiri; menjadi penjaga toko saja sudah untung bagiku yang seorang lulusan SD. Di kamar ini, tempatku beristirahat, kuingat wajah perempuan yang ada bersama bapak. cantik dengan riasan. Berapa gajinya, bekerja seperti itu?. aku mencoba merias wajahku dengan make-up seadanya di kamarku; dengan bedak bayi, lipstick merah punya emak. Ahhh, tak ku sangka. Siapapun wanita ketika merias wajahnya bisa berbeda dengan riasan. Ku biarkan rambutku terurai. Dan berlenggak-lenggok manis di depan kaca. Hasratku naik, pertama; karena keadaan mendesak harus melunasi hutang bapak, kedua; sudah lama aku tak berhubungan dengan pria. Karena dulu aku begitu mengenal bapak, tak akan pernah aku berhubungan dengan pria manapun. Yah ini waktu yang tepat.
“emak, besok eneng udah bisa kerja.” Jawabku tersenyum
“yang benar kamu?kerja apa nak” terlihat wajah senangnya terluap
“pelayan di tempat orang-orang beristirahat, mak” jawabku mantap
“ohh bagus deh, alhamdulillah neng”
“tapi mak” aku masih menyembunyikan pekerjaanku sesungguhnya. “eneng kebagian kerja siang dan pulang malam, gapapa kan?”
“iya neng gapapa hehe” ia menggenggam tanganku erat seperti mengartikan bahwa ia sangat senang memiliki anak sepertiku
Mulai hari itu, aku mampu memberikan nafkah lebih, sangat lebih lebih dari nafkah yang bapak berikan pada emak. Emak nampak bahagia begitupun denganku, setiap pagi, siang sebelum diriku berangkat kerja bahkan pulang kerja, emak selalu menyiapkan makanan yang layak, sangat layak bagiku. Dengan hasil jerih payahku, dan kami mampu melunasi beberapa hutang yang bapak tinggalkan. Emak tak banyak bertanya soal pekerjaanku, dan aku tak pernah cerita bagaimana kehidupanku di pekerjaan. Sekeras apapun bangke ditutupi, maka baunya akan tercium. Itulah yang terjadi, hari itu, aku sadar ada seseorang tetangga yang memergokiku sedang pulang dari tempat klub malam, malam itu tidak untung bagiku, kami berdua kaget, aku masih mengenakan riasan make up wanita malam dan gaun pendek merah diatas lutut, dan mengenakan high-heels dengan warna yang sama. Ahh sangat nikmat dipandang bagi para lelaki bernafsu berahi. Tak lama, seorang pria datang menjemputku dengan mobil mewah, tergesa-gesa mencium bibirku dengan penuh gairah. Mataku melotot tajam, melihat ibu seorang tetanggaku terdiam kaku seperti aku ketika melihat bapak bersama wanita di kamarku. Aku mendorong pria itu dan mengajaknya masuk ke mobil. Dan bergegas pergi meninggalkannya.
3 hari setelah kejadian itu, emak tak pernah memasak lagi, tak banyak pertanyaan yang dia tanyakan kepadaku. Sudah kebiasaan emak mampu menutupi masalah, dan tak banyak berbicara. Begitupun denganku, aku tak ambil resiko soal itu, toh aku mampu membeli makanan di luar. Seminggu lebih 2 hari, dari kejadian tersebut. Usai pulang kerja kulihat muka emak sangat pucat, bibirnya menahan kedinginan, matanya tak kuat terbuka. Ia berbaring lemah di Kasur. Baru kusadari ia nampak lebih kurus dari biasanya. Seperti ada sesuatu yang akan ia katakan, seperti ingin mengucapkan kalimat syahadat. Aku panik sangat ketakutan, air mataku turun setitik-titik ke mukanya. Ia menggenggam tanganku sambil menunjuk makanan yang sudah ia buat yang tidak tahu kapan ia buat. Perlahan-lahan matanya mengeluarkan air mata seperti berkata terimakasih dengan kumat kamitnya. Ia membaca syahadat, nadinya tak berdenyut, jantungnya meredup. spontan aku berteriak sambil menangis, menahan sesak di dada. Keluar membangunkan semua orang tetangga, dan itulah hari kematian emak. Aku bergegas memakan masakan emak yang sudah dua hari tak ku makan setelah kepergiannya. Dengan lahap ku santap lauk yang sudah basi, nasi yang sudah mengeras; demi mengisi tenaga ini dan menebus rasa salahku.
Cipadu, 4 juli 2018


Comments

Post a Comment