Percakapan singkat ke-2
Aku yang memulai percakapan, aku yang bertanggung jawab


Rintikan air datang, membasahi hati yang telah lama memendungi isi. Tiap kejadian ini aku teringat tentangmu yang menaruh hati padaku memberikan aba-aba rindu untuk menemanimu. Aku faham betul itu. Menatapku dengan mata teduh yang selalu merindu bagi siapa yang melihatnya.yahhh… Sudah lama aku bekerja disini, sebagai mahasiswa psikologi aku juga tertarik akan pekerjaan ini, bukan karena kurang biaya untuk kuliah, namun memang inovasi ku membuka toko ini untuk mengetahui isi hati para jomblowan yang merasa kesepian. Tugas ku melayani mereka yang kesepian atau lebih tepatnya si jomblo yang tidak mempunyai pasangan saat menyantap makanan, mungkin rasanya sangat-sangat tak enak jika makan sendiri dan takada perbincangan walau itu hanya singkat seperti aku dengannya saat itu. Aku tak keberatan sebagai pemilik toko ini aku juga yang menjadikan diriku sebagai karyawan, jika aku tak bekerja sebagai karyawan maka aku tak dapat mengetahui isi hati mereka. Tentu tidak aku sendiri yang bekerja disini, aku menerima lamaran karyawan yan bersedia melamar pekerjaan seperti ini.
Sistem tempat makan kecil ini, aku buat untuk mereka yang datang ingin makan namun mereka merasa tak enak karena sendiri, maka jika mereka datang sendiri akan kuhadirkan boneka beruang yang dalamnya ada karyawan ku sendiri untuk menemaninya dan mengajak ngobrol padanya agar ia juga terlihat enak saat menyantap makanannya; ia tak merasa kesepian ataupun tak terlihat bahwa ia seorang jomblo. Hemmm
Ada pelanggan yang nampak murung saat memasuki tempat makan kami, kini aku siap untuk bekerja.
“hai teman, hari ini cuaca nya sungguh cerah bukan?” sapa ku dengan pakaian kostum beruang
“hoyyy, kamu gak liat hari ini cuaca nya tuh buruk, benar-benar buruk. Dasar beruang bodoh” jawabnya dengan mata sinis dan kasar
(tak asing bagiku mendapat pelanggan seperti ini, pantas saja tak ada yang mau menemani kamu makan) “pantas saja” sahutku dalam hati
“ohh yaa, apa kamu merasa cuaca hari ini benar-benar buruk?” tanyaku dan mencoba menghibur perempuan jutek ini
“jangan kau tanyakan lagi, ohhh….. asal kamu tahu hari ini hari adalah hari yang sial, bagaimana bisa pacar ku direbut teman sendiri, bukankah itu seperti film-flm sinetron?” dia sedikit berteriak dan melotot kepadaku seperti meminta penjelasan
“ohhh nona sabarlah, mungkin itu jalan terbaik dari Tuhan untukmu, artinya ia memang laki-laki yang tak pantas untukmu” aku mencoba membujuk dan menenanginya
“benarkah?” tanyanya sambil menyantap beberapa makanan nya
“tentu” jawab ku
“kalo gitu akan kucari laki-laki lain yang benar-benar baik untukku”
“silahkan nona”
Dengan bekerja seperti ini aku dapat membaca situasi dari si pelanggan dan bisa menebak atas sikapnya, dan ini bisa menjadi bahan ku untuk mempelejari karakteristik seseorang. Terkadang ada pelanggan yang memang sedikit membuat ku jengkel, ada juga bahkan dari ia yang benar-benar membuatku muak. Namun sudah pastinya setiap pekerjaan yang kita ambil maka pengalaman baru siap harus kita terima, tapi aku suka pekerjaan ini.
6 Oktober 2017, Nakici
Hujan turun dan membasahi hati ini lagi, terasa sangat sepi dalam kegelapan sampai tak nampak wajah kekasih. Memang tak punya dan tak ada bukan? Huuh yang benar saja. Tapi tak tahu mengapa aku selalu terbayang wajahnya, tatapan teduh nya membuat ku semakin dihimpit dengan rasa rindu, benar-benar sakit; kalau difikir-fikir siapalah aku?datang tak jelas kemudian keluar dan meninggalkannya. Sengaja aku lakukan itu, apa untuk membuatnya penasaran? Tentu saja. Suara gemuruh kilat sangat kencang sampai terlihat jalanan sepi tak ada orang. Sudah larut malam aku harus pulang dari tempat makan ini, tapi bagaimana hujan juga tak kunjung reda.
Tiba-tiba ada sosok wanita yang lari-lari dari jarak jauh nampak sedang menuju tempat ku, mengangkat tas dan melindungi kepalanya dari derasnya hujan. Krenceng……krenceng….. bunyi suara loncengku yang menandakan ada pelanggan yang hadir di tempat makan kami.
Dia menunduk dan mengusap-usap kepalanya dari air yang membasahi dirinya, aku hanya melihatnya dari ruang duduk ku. Kemudian karyawan ku datang padanya mengucapkan selamat datang, dan memberikan daftar menu padanya. Ia duduk dan mengibas rambutnya oleh handuk yang diberikan oleh seorang karyawan ku. Nampak jelas wajah ayu nya, seperti kukenal.. ia mirip gadis yang selalu aku bayangkan setiap hujan datang. Ahhhhhhh… bukankah itu memang dia? Yang selalu datang difikiranku, wanita yang kuajak bercakap walau hanya sebentar? Ahh tidak mungkin.
Tak lama karyawanku datang dan memberikan pesanan padanya, ia hanya memesan greentea coffee, lalu ia membuka laptop nya nampak sedang mengerjakan tugas. Sangat persis saat aku sapa ia di kedai kopi pak sholeh saat itu, yahh itu benar-benar dia memang dia; seperti keajaiban. Sudah lama aku tak melihatnya, aku ingin bertemu dengan nya tapi tak pernah kutemui, kali ini aku siap bertanggung jawab atas percakapan singkatku saat itu, kasih.
“Mas rian mau kemana pake kostum beruang” Tanya salah satu karyawanku
“ohh…. Itu ada salah satu pelanggan kita yang sendiri, mungkin saja ia seorang jomblo dan merasa kesepian tak ada yang menemani” jawabku dan terburu-buru
“mas tadi ia memesan hanya itu saja, ia bilang tak mau ditemani, katanya suka sendri; lagi pula hanya sebentar untuk mengetik dan menunggu hujan reda” jelas mba nina padaku
“tapi tetap saja kita harus menemaninya, karna salah satu misi kita untuk menghilangkan rasa kesepian pada diri sendiri di tempat makan ini mba” jelas ku dan mencoba membujuknya
“tapi mas rian……-“
Aku pergi meninggalkan percakapan mba nina yang terputus, dan datang padanya untuk menemani sekaligus melanjutakan percakapan kami yang ke-2
“hai nona, bagaimana kabarmu?” sapaku dengan rasa amat senang
Ia nampak tenang dan cukup membalas ku dengan senyuman manisnya dan tatapan teduhnya yang semakin membuat hati ini terasa berdebar
“nona jangan tersenyum, jawab sapaku. Kau ini hanya membuat ku gila saja”
“aku ingin sendiri beruang manis, aku tak butuh kamu” jelasnya dalam wajah ayu
Wajahnya nampak serius dan fokus dalam ketikan nya, ia tak seutuhnya bahagia seperti senyuman tadi. Seperti ada masalah yang tertutupi, dengan beberapa kali penampilan wajah yang ia pasang, ia masih sama seperti dahulu saat aku pertama menyapanya ia kelihatan kesepian dan selalu begitu. Wanita yang amat cuek pada keadaan-namun aku suka.
“nona, apa kamu masih merasa kesepian?” Tanya ku untuk memastikan keadaan
“beruang jangan kamu ganggu aku kali ini, ohhh sepertinya hujan mulai reda-sudah larut malam aku harus pulang” ungkapnya dan sambil membereskan barang-barangnya
Aku membuka topeng beruang dan kuhadapkan mukaku padanya
“hai, sudah lama tak bertemu, kasih” sapaku kepadanya
********
Itu semua hanya ekspetasi, dibalik kisah itu saat kau sedang membereskan barang-barangmu. Nada dering handphone mu berbunyi, panggilan dari seorang pria yang yang terlihat dari foto whatsapp nya bersamamu, dia bernama Panji. Aku urung niatku untuk menyapamu. Kau terlihat amat buru-buru dan senang untuk menemuinya saat kau jawab panggilannya dengan ucapan ‘baik sayang’. Aku putuskan kamu cukup adil untuk membalas dendamu padaku, kasih. Aku tidak bisa menebak isi hati mu. Aku cukup bodoh dalam hal itu.
Terima kasih atas percakapan singkat kali ini, kau meninggalkanku persis saat aku meninggalkanmu ketika hujan reda.


Comments

  1. Lanjutannya nyesek bgt ;' , kirain si cewe bakalan punya cerita manis sama si cowo psikologi

    ReplyDelete

Post a Comment